Hero section image background

Astana Gede Kawali, Ibu Kota Kedua Kerajaan Sunda-Galuh

Kamis, 4 Juni 2026

Berita

1 rb

Postingan ini dilihat

1

Postingan ini dibagikan

Poster post Astana Gede Kawali, Ibu Kota Kedua Kerajaan Sunda-Galuh

Kabupaten Ciamis banyak memiliki tempat sejarah terutama berkaitan dengan era Kerajaan Galuh. Salahsatunya situs Astana Gede Kawali. Tempat ini bukan hanya sekadar makam, tapi merupakan ibu Kota Kerajaan Galuh sekaligus jejak akhir dari peradaban Kerajaan Sunda Galuh.

Kerajaan Galuh dan Astana Gede ini berkaitan dengan sejarah dan peradaban di negeri ini. Sehingga bisa menyambungkan silaturahmi dengan seluruh peradaban Nusantara. Seperti pada era Mataram Kuno di mana Raden Sanjaya adalah keturunan Galuh di abad ke 8 dan Raden Wijaya dari Kerajaan Majapahit.

Bila kembali,  Padjadjaran yang memiliki nama lengkap Pakuan Padjadjaran sebenarnya adalah nama ibu kota Kerajaan Sunda yang membentang dari Sungai Citarum bagian Barat hingga ke Ujung Kulon Banten, adapun Kerajaan yang membentang dari Timur Sungai Citarum ke arah Ciamis itu dikuasai oleh Kerajaan Galuh yang sebenarnya sama-sama merupakan pecahan dari Kerajaan pendahulunya yaitu Tarumanegara

Jadi Kawali dulunya adalah ibu kota kedua Kerajaan Sunda-Galuh setelah mereka bersatu. Secara umum Kawali ini pernah digunakan oleh raja Sunda-Galuh dari Ajiguna Linggawisesa hingga ke Raja Niskala Wastu Kancana sekitar abad ke 14 M. Tidak heran kita akan menemukan ada beberapa prasasti di  Astana Gede Kawali  yang dikeluarkan oleh raja-raja Sunda-Galuh ketika bertahta di Kawali.

Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 40 menit dari pusat perkotaan Ciamis. Astana Gede Kawali kini sebagai tempat wisata yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Ciamis dan ditetapkan sebagai cagar budaya.

Di lokasi ini terdapat beberapa peninggalan Raja Kerajaan Galuh berupa batu prasasti, yang dikenal ada 6 prasasti yang ada di situs tersebut. Prasasti ini memiliki tulisan Sunda kuno, bahkan ada juga cetakan telapak tangan dan kaki salah seorang Raja Galuh yakni Prabu Niskala Wastukencana. Ada juga batu tempat penobatan para Raja Galuh di Kawali. Konon, raja terakhir yang dinobatkan di tempat tersebut adalah Prabu Siliwangi sewaktu menerima tahta

Kerajaan Galuh Pakuan pada tahun 1482

Selain prasasti ada juga batu tempat disemayamkannya abu jasad putri Diah Pitaloka (Dewi Citra Resmi) dan Prameswari serta Prabu Lingga Buana, yang gugur pada palagan Bubat sekitar tahun 1357. Astana Gede Kawali ini sangat penting dari aspek kesejarahan karena  saat itu dikatakan menjadi pusat peninggalan Kerajaan Galuh. (Dari berbagai Sumber).

 

Penulis: Humas